Hidup harus dijalani dengan Ikhlas.
Kaya... kujalani.
Miskin... juga kujalani.
Senang... kujalani.
Susah... juga kujalani.
Jadi, kenapa tidak menjalaninya dengan senyuman?

Minggu, 18 Desember 2011

KeTika

Seandainya dirimu mengaku baik … Belum tentu aku jatuh hati..
Sebelum kamu buktikan baik mu pada orang lain…
Sebelum kamu buktikan baik mu pada anak yatim…

Seandainya dirimu taat pada Rabb mu.. Belum tentu aku jatuh
hati…
Sebelum kamu buktikan taat mu yang menghormati perbedaan…
Sebelum kamu buktikan taat mu dengan menerima kekurangan
apa adanya…

Seandainya dirimu seorang penghuni surga..
Belum tentu aku jatuh hati …
Sebelum kamu buktikan ke shalehan-mu dengan sifat sabar…
Sebelum kamu buktikan ke shalehan-mu dengan jiwa yang
pema’af…

Ketika aku jatuh hati…
ketika aku sangat memuja-mu … dan
ketika aku sangat membutuhkan-mu…
Adalah ketika dirimu tunjuk- kan senyum-mu yang indah untuk
seteru-mu…

Shaleh adalah ketika kamu tunjukan matamu yang
bening…
yang berurai air mata melihat keindahan dan keburukan dan
Ketika hatimu tulus menerima takdirnya
Ketika tanganmu terulur melihat saudara-mu jatuh…
dan
Ketika dirimu bentangkan tangan-mu menyambut kedatanganku
yang hina….

Jumat, 01 Juli 2011

Ta'aruf

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.

2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.

3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.

4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.

5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.

6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.

7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.

Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber : FB Ustzh Zahrina N

Rabu, 02 Februari 2011

Saya Bisa Jadi Apa ?

Pertanyaan Pertama A:
Pernahkah Anda melihat seorang tukang sapu di pinggir jalan?
Apa yang Anda lihat?
Bisakah Anda melihat masa depannya?
Jika ia bertanya pada Anda apa pekerjaan yang pantas bagi dia di masa depan apa jawaban Anda?

Pertanyaan Pertama B:
Pernahkan Anda melihat tukang sampah?
Apa yang Anda lihat?
Bisakah Anda melihat masa depannya?
Jika ia bertanya pada Anda apa pekerjaan yang pantas bagi dia di masa depan apa jawaban Anda?

Pertanyaan Kedua:
Sekarang saya balik.
Pernahkan Anda melihat seorang Presiden?Apa yang Anda lihat?
Jika ia bertanya pada Anda apa pekerjaan yang ia lakukan dahulu, apa jawabannya?

Tahukah Anda kedua pertanyaan di atas bisa diajukan pada 1 orang yang sama?
Maksudnya?
Jika Anda tanya pada Lee Myung Bak maka jawaban pertanyaan pertama adalah pertanyaan kedua dan sebaliknya
Lee Myung Bak dulu bekerja sebagai tukang sapu di pinggir jalan, kini menjabat Presiden di Korea Selatan
Lyndon B. Johnson juga demikian.Dulu ia tukang sampah dan kemudian terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Profesimu hari ini tidak menunjukkan profesimu di masa depan.
Apa yang ada dipikiran dan hatimu saat ini lah yang akan menentukan masa depanmu.

Apa profesimu hari ini?Apakah Anda pekerja rendahan?Apakah Anda cuma buruh biasa?Apakah Anda cuma pesuruh?
Jangan khawatir dengan masa depanmu, karena profesimu hari ini, serendah apapun itu tidak menunjukkan masa depanmu.Pikiran mu lah yang menentukan.Dream mu yang menentukan masa depanmu.

Jika Anda Ingin sukses, pekerjaan apapun yang sedang kita jalani, serendah apapun posisinya,
profesimu hanya batu loncatan untuk maju.

Lee Myung Bak ketika jadi tukang sapu, tahu itu hanya sementara.
Lyndon B Johnson ketika jadi tukang sampah tahu itu hanya sementara.

Coba Anda baca buku "Saya bisa jadi Apa?"
Buku ini adalah salah satu dari 4 buku motivasi ringan yang sedang digarap Isa Alamsyah.
Di buku ini Anda akan melihat orang yang dulunya pelayan, tukang koran, supir, buruh, kuli bangunan, sekarang kita kenal sebagai selebriti dunia, politisi kuat, orang terkaya di dunia dan berada di puncak kesuksesan.

Semua contoh yang ada cukup untuk mengatakan,
Anda bisa dia APA SAJA di masa depan,
tidak peduli APA PROFESIMU saat ini.